KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN DAULAH
BANI UMAYYAH
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang
Daulah
Bani Umayyah mempunyai peranan penting dalam perkembangan masyarakat di bidang
politik, ekonomi dan sosial. hal ini didukung oleh pengalaman politik Mu`awiyah
sebagai Bapak pendiri daulah tersebut yang telah mampu mengendalikan situasi
dan menepis berbagai anggapan miring tentang pemerintahannya.[1]
Kekuasaan
Daulah Umayyah dapat bertahan karena ditopang oleh paham kesukuan yang muncul
sejak terjadinya tragedy terbunuhnya Utsman. Kekuasaaan Daulah Umayyah ini
selalu membawa bendera suku Quraisy yang tidak dapat dilepaskan. Dan didukung
pula adanya pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai kekacauan yang
terjadi dan dapat mengontorol wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan.
Pemerintahan ini juga mampu memposisikan paham kekuasaan absolute dalam batas
yang masih terkontrol. Hal ini didukung oleh makin koopratifnya kelompok Islam
yang lain terhadap pemerintah. Sedangkan dalam kehidupan sosial, kekuatan yang
berpaham keislaman yang pada masa Ali berlawanan dengan paham kesukuan, pada
masa Daulah Umayyah justru berpaling mendukung Mu`awiyah. Hal ini disebabkan
karena Daulah Umayyah tidak menampakkan permusuhan dengan paham-paham
keislaman, yang sesungguhnya merupakan strategi penguasa untuk menghindari
terjadinya kekacauan akibat berkembangnya paham kesukuan.[2]
Namun
berdirinya Daulah Umayyah (661-750) tidak semata-mata peralihan kekuasaan,
namun mengandung banyak implikasi, di antaranya adalah perubahan beberapa
prinsip dan berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi imperium dan
perkembangan umat Islam.[3]
Walau
pada awalnya Daulah Umayyah tidak mempunyai arah politik khilafah yang jelas,
namun kelompok ini memiliki elatisitas dalam menghadapi perkembangan sosial.
Hal ini dibuktikan dengan kemampuan mereka bekoalisi dengan 3 kelompok lain,
yaitu kekuatan kesukuan, gerakan oposan dan paham keislaman secara umum, yang tercermin
dalam segala aspek, meliputi aspek pemerintahan, aspek ekonomi dan sosial
kemasyarakatan.[4]
Dari
berbagai kemajuan yang dicapai Daulah Bani Umayyah yang dimulai oleh pendiri
daulah tersebut yakni Mu`awiyah Bin Abi Sufyan, ternyata tidak mampu membuat
Daulah tersebut langgeng, bahkan ia akhirnya jatuh menyisakan puing-puing
kehancuran setelah munculnya kekuatan baru dari Bani Abbasiyah
- B. Rumusan masalah
Adapun
rumusan masalah yang penulis akan bahas dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
- Apa faktor-faktor
kemunduran Daulah Bani Umayyah?
- Apa Sebab-sebab kehancuran Daulah Bani Umayyah?
BAB II
PEMBAHASAN
- A. Kemunduran
Mu`awiyah
mendirikan Daulah Umayyah pada tahun 41 H di Damaskus, dengan berdirinya pusat
pemerintahan Islam yang baru tersebut berarti bergeserlah pusat pemerintahan
Islam dari Madinah ke Damascus. Perpindahan ibu kota tersebut terjadi melalui
proses yang panjang didukung oleh strategi politik yang dibangun oleh
Mu`awiyah. Dan Mu`awiyah memperoleh pengalaman politik dalam masa yang cukup
lama, yakni mulai masa Rasulullah SAW sampai masa khalifah yang terakhir.[5]
Dengan
berdirinya Daulah Umayyah, maka sistem politik dan pemerintahan berubah.
Pemerintahan khalifah tidak lagi dilakukan secara musyawarah sebagaimana proses
pergantian khalifah-khalifah sebelumnya. Suksesi pemerintahan dilakukan secara
turun-temurun melalui pemilihan, seorang khalifah tidak lagi harus sekaligus
pemimipin agama sebagimana khalifah-khalifah sebelumnya. Urusan agama
diserahkan kepada para ulama, dan ulama hanya dilibatkan dalam pemerintahan
jika dipandang perlu oleh khalifah.[6]
Selama
masa pemerintahan dan kekuasaan khalifah pertama (Mu`awiyah), Daulah Umayyah
banyak mencapai keberhasilan, terutama penaklukan sejumlah kota penting di
kawasan Asia Tengah, seperti Kabul, Heart dan Gazna. Dalam pemerintahan, ia
mendirikan beberapa departemen yang mengurus masalah-masalah kepentingan umat,
seperti playanan pos, pembagian tugas pemerintahan pusat dan daerah, pemungutan
pajak dan pengangkatan gubernur-gubernur di daerah.
Kalau
ditelusuri lebih jauh daulah tersebut berkuasa hampir satu abad, tepatnya
selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Yang dimulai oleh Mu`awiyah Ibn Abi
Sufyan dan ditutup oleh Marwan Ibn Muhammad. Diantara mereka ada
pemimpin-pemimpin besar yang berjasa di dalam berbagai bidang sesuai dengan
kehendak zamannya, sebaliknya ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah.
Adapun urutan khalifah Daulah Umayyah adalah sebagai berikut:[7]
- Mu`awiyah Bin Abu
Sufyan
- Yazid Bin
Mu`awiyah (Abu Khalid al-Umawi)
- Mu`awiyah Bin
Yazid
- Abdullah Bin
Zubair
- Abdul Malik Bin
Marwan
- Al-Walid Bin
Abdul Malik
- Sulaiman Bin
Abdul Malik
- Umar Bin Abdul
Malik
- Yazid Bin Abdul
Malik Bin Marwan
- Hisyam Bin Abdul
malik
- Al-Walid Bin
Yazid Bin Abdul Malik
- Yazid An-Naqish,
Abu Khalid Bin Al-Walid
- Ibrahim Bin
Al-Walid Bin Abdul Malik
- Marwan Bin
Muhammad, Al-Himar
Empat
orang khalifah memegang kekuasaan sepanjang 70 tahun, yaitu: Mu`awiyah, Abdul
Malik, Al-Walid I dan Hisyam. Sedangkan sepuluh khalifah sisanya hanya
memerintah dalam jangka waktu 20 tahun saja. Dan para pencatat sejarah umumnya
sependapat bahwa khalifah-khalifah terbesar mereka ialah: Mu`awiyah, Abdul
Malik dan Umar Ibn Abdul Aziz.[8]
Untuk
memelihara keutuhan dan mencegah perpecahan umat Islam karena suksesi
kepemimpinan, sebagaimana yang pernah ia saksikan pada masa beberapa khalifah
sebelumnya, Mu`awiyah mencalonkan putranya, Yazid sebagai putra mahkota yang
akan menggantikan kedudukanya jika ia meninggal, pencalonan tersebut
dilakukannya pada tahun 679. untuk mengamankan pencalonann itu, Mu`awiyah
melakukan bebagai pendekatan kepada para pemuka masyarakat hingga seluruh
lapisan masyarakat.[9]
Namun
rencana tersebut mendapat tantangan dari beberapa pihak, terutama pemuka-pemuka
masyarakat hijaz, sepeerti Abdullah bin Umar, Abdul Rahmn bin Abi Bakar, Husein
bin Ali, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas. Penolakan mereka didasari
atas suatu keinginan agar khalifah yang diangkat tidak melalui penunjukan,
melainkan dengan musyawarah sebagaimana yang pernah diperaktekkan oleh
khalifah-khalifah sebelumnya.[10]
Setelah
Mu`awiyah wafat, Daulah ini harus berusaha keras mempertahankan posisinya yang
goyah, kondisi politik tidak stabil, banyak kelompok masyarakat yang tidak puas
dengan raja baru yang sebelumnya telah dinobatkan sebagai putera mahkota.
Pengangkatan putera mahkota ini mengakibatkan munculnya gerakan-gerakan oposisi
dari kalangan sipil yang menyebabkan terjadinya perang saudara beberapa kali
dan berkepanjangan.
Maka
setelah Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau
menyatakan setia terhadapnya meskipun pada akhirnya terpaksa tunduk juga,
kecuali Husain Ibn Ali dan Abdullah Ibn Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi`ah
(pengikut Ali) melakukan konsilidasi (penggabungan) kekuatan kembali.
Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husain Ibn Ali pada tahun 680 M.
namun tentara Husain kalah dan dia sendiri terbunuh dalam pertempuran yang
tidak seimbang, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya di
kubur di Karbala.[11]
Perlawanan
kaum Syi`ah tidak padam dengan terbunuhnya Husain, bahkan mereka menjadi lebih
keras, lebih gigih dan tersebar luas. Banyak pemberontakan yang dipelopori kaum
Syi`ah terjadi, diantaranya terjadinya pemberontakan Mukhtar di Kufah yang
mendapat dukungan dari kaum Mawali pada tahun 685-687 M.[12] selain itu Bani
Umayyah juga mendapat tantangan dari kaum Khawarij, dan meskipun
gerakan-gerakan anarkis yang dilancarkan baik dari pihak syi`ah maupun dari
khawarij dapat dipatahakan oleh Yazid tetapi tidak berarti menghentikan gerakan
oposisi dalam pemerintahan Bani Umayyah.
Dan
hubungan pemerintahan dan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Umar
bin Abdul Aziz (717-720). Dia berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan
Syi`ah, dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lainnya untuk
beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaannya, pajak diperingan, kedudukan
Mawali disejajarkan dengan muslim Arab.[13] tetapi sayang sekali
angin kedamain yang berhebus dari pesona kepemimpinan Umar yang adil dan
bijaksana ini tidak berlangsung lama, hanya lebih kurang dua tahun memerintah
kemudian beliau meninggal dunia. Penggantinya adalah Yazid Ibn Abd. Malik
(720-724) Khalifah ini jauh berbeda dengan khalifah sebelumnya, ia terlalu
gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan rakyat, sehingga kerusuhan
terus berlangsung hingga masa pemerintahan Hisyam Ibn Abd. Malik (724-743).
Bahkan dizaman ini mucul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi
pemerintahahn Bani Umayyah. kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang
didukung oleh golongan Mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius dalam
perkembangan berikutnya kekuatan baru ini mampu menggulingkan Daulah Umayyah
dan mengantinya dengan Daulah baru, yakni Daulah Bani Abbasiyyah.
Sepeniggal
Hisyam Ibn Abd. Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya
lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi.
Akhirnya pada tahun 750 M Daulah Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu
dengan Abu Muslim al-Khurasani.[14] Marwan Bin Muhammad
khalifah terakhir bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, ditangkap dan dibunuh
disana.[15]
Dari
berbagai kesuksesan dan kebesaran yang telah diraih oleh Bani Umayyah ternyata
tidak mampu menahan kehancurannya, akibat kelemahan-kelemahan internal dan
semakin kuatnya tekanan dari fihak luar. Adapun hal-hal yang membawa kemunduran
yang akhirnya berujung pada kejatuhan Bani Umayyah dapat diidentifikasikan
antar lain sebagai berikut:
- Pertentangan
keras antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi menjadi dua kelompok,
yaitu Arab Utara yang disebut Mudariyah yang menempati Irak dan Arab
Selatan Himyariyah yang berdiam di wilayah Suriah. Di zaman
Umayyah persaingan antar etnis itu mencapai puncaknya, karena para
khalifah cederung kepada satu fihak dan menafikan yang lainnya.
- Ketidak puasan
sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari
kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”,
suatu stastus yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan
orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah.
Mereka bersama-sama Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan atas
rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan
dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang
diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan
yang dibayarkan kepada orang Arab.
- Latar belakang
terbentuknya kedaulatan Bani Umayyah tidak dapat dilepaskan dari
konflik-konflik politik. Kaum syi`ah dan khawarij terus berkembang menjadi
gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan
kekuasaan Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa
akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk
merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani Umayyah
dalam memimpin umat.[16]
- B. Kehancuran
Secara
Revolusioner, Daulah Abbasiyyah (750-1258) menggulingkan kekuasaan Daulah
Umayyah, kejatuhan Daulah Umayyah disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya
meningkatnya kekecewaan kelompok Mawali terhadap Daulah Umayyah, pecahnya
persatuan antarasuku bangsa Arab dan timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan
keinginana mereka untuk memilki pemimpin karismatik. Sebagai kelompok penganut
islam baru, mawali diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua, sementara bangsa
Arab menduduki kelas bangsawan. Golongan agamis merasa kecewa terhadap
pemerintahan bani Umayyah karena corak pemerintahannya yang sekuler. Menurut
mereka, Negara seharusnya dipimpin oleh penguasa yang memiliki integritas
keagamaan dan politik. Adapun perpecahan antara suku bangsa Arab,
setidak-tidaknya ditandai dengan timbulnya fanatisme kesukuan Arab utara, yakni
kelompok Mudariyah dengan kesukuan Arab Selatan, yakni kelompok Himyariyah.
Disamping itu, perlawanan dari kelompok syi`ah merupakan faktor yang sangat
berperan dalam menjatuhkan Daulah Umayyah dan munculnya Daulah Abbasiyyah.[17]
Namun
secara garis besar menurut Badri Yatim faktor yang menyebabkan Daulah Bani
Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah :
- Sistim pergantian
khalifah melalui garis keturunan adalah merupakan sesuatu yang baru bagi
tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak
jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan
terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana
- Latar belakang
terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa kaum Syi`ah
(pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara
terbuka seperti dimasa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti
dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap
gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
- Pada masa
kekuasaan bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani
Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum
Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani
Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan.
Disamping itu, sebagian besar golongan Mawali (non Arab), terutama di Irak
dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puasa karena status Mawali
itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa
Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah
- Lemahnya
pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah
dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul
beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu,
golongan agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan
agama sangat kurang
- Penyebab langsung
tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru
yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib.
Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah
dan kaum Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.[18]
Dari
uraian kemunduran dan kehancuran Daulah Bani Umayyah diatas, penulis melihat
hal ini merupakan sunnatullah bahwa setiap kekuasaan dan peradaban akan
mencapai puncak kemajuannya, dan akan menelusuri jurang kehancurannya
dikemudian hari. وَتِلْكَ الأَيَّامُ نُدَاوِلهْاَ
بَيْنَ النَّاسِ…[19]
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pemaparan makalah tersebut, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
- Diantara
faktor-faktor yang membawa Daulah Bani Umayyah mengalami kemunduran adalah
sebagai berikut:
-
Munculnya fanatisme kesukuan dalam suku-suku bangsa Arab
-
Kuatnya pengaruh fanatisme golongan (Arabisme) yang memicu munculnya
kecemburuan sosial dikalangan non Arab (Mawali)
-
Adanya perebutan kekuasaan di dalam keluarga besar Bani Umayyah
-
Larutnya beberapa penguasa (khalifah) dalam limpahan harta dan kekuasaan
- Adapun
faktor-faktor yang membawa Daulah Bani Umayyah ke gerbang kehancuran
adalah sebagai berikut:
-
Tidak adanya sistem pergantian pemerintah (khalifah) yang baku yang bisa
dijadikan patokan dalam pergantian khalifah
-
Kuatnya gerakan oposisi dari kaum Syi`ah dan Khawarij
-
Perselisihan dan pertentangan etnis antara suku Arab yang mengakibatkan para
penguasa mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan
-
Sikap hidup yang mewah dilingkungan keluarga Bani Umayyah
-
Perhatian penguasa Bani Umayyah terhadap perkembangan agama sangat kurang
-
Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd.
Al-Muthalib dan didukung oleh Bani Hasyim, kaum Syi`ah dan kaum Mawali.
- Hikmah atau
pelajaran yang dapat penulis petik bahwa, setiap Daulah/kekuasaan akan
mengalami masa kejayaan dan kehancuran, dan alangkah jayanya suatu
kekuasaan/peradaban kalau ia dapat mengambil pelajaran untuk menggapai kejayaan
berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur`an
Al-Karim dan Terjemahannya
As-Suyuthi,
Imam, Tarikh Khulafa`; Sejarah Penguasa Islam: Khulafa`urrasyidin, Bani
Umayyah, Bani Abbasiyyah, Cet. I, Pustaka Al-Kautsar; Jakarta: 2001),h. 229
– 304
Ensiklopedi
Islam Vol. 3 (Cet. XIII, PT. Ichtiar Van Hove; Kakarta: 2003), h. 248
Muchtar
Ghazali, Adeng, Drs. M.Ag, Perjalanan Politik Umat Islam dalam Lintasan
Sejarah (Cet.I, CV.Pustaka setia; Bandung: 2004), h. 52
Mufrodi,
Ali, Dr., Islam di Kawasan Kebudayaanb Arab (Cet. II, Logos Wacana Ilmu;
Jakarta: 1999 M) h. 72
Yatim,
Badri , M.A, Dr., Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II,
(Cet. XII, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta: 2001), h. 45
Yujah
Sawiy, Khairudin, Perebutan Kekuasaan Khalifah, Minyingkap dinamika dan
sejarah politik kaum sunni, (Cet.II, Safria Insani Press: Yogyakarta:
2005), h. 11
______________________
[1]
Prof.Dr. Azhar Arsyad, M.A, Retorika Kaum Bijak, Media pembangkit motivasi
dan daya hidup serta penannaman nilai-nilai dan budi luhur, (Cet.II,
Yayasan Fatiya; Makassar: 2005), h. 142
Dan
mungkin tidak ada salahnya kalau kita mengambil hikmah dari ungkapan penglima
perang Bani Abbasiyyah yang menaklukkan Daulah Bani Umayyah dengan ungkapannya:
أَدْرَكْتُ بِالحَزْمِ وَالكِتْمَانِ مَا عَجَزَتْ # عَنْهُ
مُلُوْكُ بَنِى مَرْوَانَ إِذْ حَشَدُوْا
مَازِلْتُ أَسْعَ فِى دِمَارِهِمْ # وَالقَوْمُ فِى غَفْلَةٍ
بِالشَّامِ قَدْ رَقَدُوْا
حَتىَّ ضَرَبْتُهُمْ بِالسَّيْفِ فَانْتَبَهُوْا # مِنْ
نَوْمَةٍ لَمْ يَنَمْ قَبْلَهُمْ أَحَدٌ
وَمَنْ رَعَيْ غَنَمًا فِى أَرْضٍ مَسْبَعَةٍ # وَنَامَ عَنْهَا
تَوَلَّى رَعْيَهَا الأَسَدُ
Saya
ketahui dengan cermat dan tersembunyi apa yang membuata lemah # Raja-raja Bani
Marwan kala mereka berkumpul
Saya
senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan mereka # kaum itu dalam
kelengahan tertidur lelap di Syam
Ketika
saya tebas mereka dengan pedang, baru mereka terbangun dari tidur yang tidak
seorang pun sebelumnya tidur seperti itu
Barangsiapa
mengembala kambing di padang binatang buas dan tertidur nyenyak (lengah dengan
gembalaannya) maka singa-singa (binatang buas) akan mencabik-cabiknya
Cara
yang digunakan untuk mencapai kekuasaabn bervariasi dan berbeda-beda, cara-cara
tersebut dpaat disuimpulkan sebagai berikut:
- Dilakukan denga
cara musyawarh tentang calon tertentu seperti terjadi pada masa Mu`awiyah
mengankat Yazid
- Kesepakatan kepal
asuku atas dua calon yang sudah ditentukan seperti terpilihnya Marwan bin
hakam
- Penyerahan
kekuasaan berdasar keturunana secara langsung seprti terjadi pada masa
kepemimipinan Abdul malik bin Marwan dan Walid bin Abdul malik
- Pewarisan
keturunana tidak langsung atau secara kekeluargaaan seperti terpilihnya
Sulaiman bin Abdul malik dan Hisyam bin Abdul malik
- Serangan dengan
menggunakan modal kesukuan secara langsung seperti serangan Yazid bin
Walid
- Serangan kekuatan
kesukuan langsung seperti serangan Marwan bin Muhammad yang menunjukkan
bahwa keluaraga Umaiyyah belum dapat menetapkan suatu model kepamimpinana
yang baku dalam pemerintahan
(Khairudin
Yujah Sawiy, Perebutan Kekuasaan Khalifah, Minyingkap dinamika dan sejarah
politik kaum sunni, (Cet.II, Safria Insani Press: Yogyakarta: 2005), h. 19
[1] Khairudin Yujah
Sawiy, Perebutan Kekuasaan Khalifah, Minyingkap dinamika dan sejarah politik
kaum sunni, (Cet.II, Safria Insani Press: Yogyakarta: 2005), h. 11
[2] Ibid.,
[3] Drs. Adeng Muchtar
Ghazali, M.Ag, Perjalanan Politik Umat Islam dalam Lintasan Sejarah
(Cet.I, CV.Pustaka setia; Bandung: 2004), h. 52
[4] Khairudin Yujah
Sawiy,… Op. Cit., h. 12
[5] Ensiklopedi Islam
Vol. 3 (Cet. XIII, PT. Ichtiar Van Hove; Kakarta: 2003), h. 248
[6] Ibid., h. 247
[7] Imam As-Suyuthi, Tarikh
Khulafa`; Sejarah Penguasa Islam: Khulafa`urrasyidin, Bani Umayyah, Bani
Abbasiyyah, Cet. I, Pustaka Al-Kautsar; Jakarta: 2001),h. 229 – 304
[8] Dr. Ali Mufrodi, Islam
di Kawasan Kebudayaanb Arab (Cet. II, Logos Wacana Ilmu; Jakarta: 1999 M)
h. 72
[9] Ensiklopedi Islam… Op.
Cit., h. 248
[10] Ibid.,
[11] Dr. Badri Yatim, M.A,
Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, (Cet. XII, PT. Raja
Grafindo Persada; Jakarta: 2001), h. 45
[12] Ibid., h. 46
[13] Ibid., h. 47
[14] Ibid., h. 48
[15] Ibid., h. 47
[16] Dr. Ali Mufrodi,… Op.
Cit., h. 83-84
[17] Drs. Adeng Muchtar
Ghazali,… Op. Cit., h. 56
[18] Dr. Badri Yatim, M.A,…Op.
Cit., h. 49
[19] Dan masa (kejayaan
dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat
pelajaran); … (Al-Qur`an S. Ali Imran : 140)
[20] Prof.Dr. Azhar
Arsyad, M.A, Retorika Kaum Bijak, Media pembangkit motivasi dan daya hidup
serta penannaman nilai-nilai dan budi luhur, (Cet.II, Yayasan Fatiya;
Makassar: 2005), h. 142
Tidak ada komentar:
Posting Komentar